Kamis, 27 Juni 2013

Entahlah

Ohayou..... eh konbanwa eprebadeh!! malam ini agak sedikit a little lumayan capek disebabkan oleh suatu sebab yang sudah menjadi akibat karena harus menanggung resiko dan akan memetik buahnya suatu hari, atau tidak sama sekali. Ya semacam itulah.
Hari ini hari Kamis, dan besok hari Jum'at, berarti malam ini adalah malam Jum'at, lalu bisa dibilang Kamis malam, dan tidak ada yang peduli, tapi mungkin ada yang peduli, mungkin seseorang di luar sana, di luar mana entahlah, tidak mungkin di luar rumah, karena di luar rumah, di luar rumah hanya ada paman pentol, dan itupun hanya sekedar lewat, hanya lewat, bahkan seorang paman pentol hanya lewat, tak kau sapakah diriku dahulu, kau palingkan wajahmu seakan tak melihatku, apa arti diriku ini di matamu, apakah hanya sebagai tempat persinggahan belaka, tak lama kusadari, pantas saja, aku di dalam rumah, engkau di luar rumah, kodrat kita berbeda, kita tak dapat bersatu, engkau di sana, aku di sini, engkau berdiri, aku berduduk, engkau berjalan, aku masih duduk, betapa berbedanya dunia kita, tetapi satu, satu yang pasti, satu ikatan antara kita, satu karunia karena kita dapat terlahir di dunia ini, tak dapat kupungkiri lagi, tak akan kuragukan lagi, kita sama-sama homo sapiens di dunia ini.

Kadang waktu berjalan, kadang waktu merangkak, dan ada kalanya waktu berlari, mengejar matahari, mengejar rembulan, tanpa memakai sepatu, tanpa memakai kaus kaki, tanpa mengeluarkan keringat, tak kenal lelah selalu berlari, mengejar sesuatu kah, cintanya pada waktu betina yang tak kunjung tersampaikan kah, atau mungkin cintanya yang selalu bertepuk sebelah tangan, menyerah tak ada dalam kamusnya, karena ia memang tak punya kamus, wujud pun ia tak punya, bisakah kalian membayangkan, wujud dari seorang 'waktu', 'waktu' yang sebenarnya, karena jam pm/am yang kalian pikirkan hanyalah fana belaka, hanyalah patokan semata, saya sendiri pun tidak tahu, tapi saya tahu diri, tahu bahwa segalanya akan berubah, tahu bahwa segalanya tak akan sama seperti sekarang, tahu bahwa waktu berjalan bukan berlari, tahu bahwa tempe selalu menjadi sahabat terbaik tahu, tetapi akankah, ketidaktahuanku akan menyeret atau menggendongku ke lembah kegelapan, ke lembah kebodohan, tunggu kelajuntan kisah berikutnya.

Selasa, 18 Juni 2013

Forever like Ever ??

Here's some small talk with myself after watching Notting Hill which have been watched from me like many times but it just in the end, but after watching from the beginning, it was that damn good. There's so many dialogs that caught my heart deeply inside, just like :

Anna : Can I stay for awhile ?
Thacker : Stay forever.

and

Anna : After all... I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.

and one more

but accidentally i forget what i wanna write right down here. hellyeah.


So, just to the point. About forever, yes it's not a rare species of word to find if we're talking about love. But forever has its negative and positive side, at least i think so. There is nothing wrong with forever overall, it just the perspective of some person that matters.You can say that forever just only exist in fairytales, or it's totally bullshit,  but for me it also exist in this real world. It might be depends on a person who said that. It could be totally a lie, if the person is a lizard liar(it just my phrase using lizard). Forever is exist, on my opinion cause it said by the right person. Even when they're die, im sure you do still have feelings for them, except you got insomnia err, amnesia. And yeah, another reason is you've promised to meet them again in another life, If Allah lets you. So it doesn't stop till this temporary life, isn't it? But, back again, it depends on the people how they could accept the word "forever".

Kamis, 06 Juni 2013

Pendidikan, antara budaya menghukum dan merangsang minat siswa

" Ini merupakan sebuah artikel/cerita yang saya ambil dari facebook kak Lasma Sinaga   Menurut saya cerita ini adalah cerita dimana hampir sebagian besar pelajar di Indonesia merasakan hal seperti ini termasuk saya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. (ini hanya copy paste ya)"
 
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti..

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI).